Saya Mencintaimu Karena-Nya

“Sungguh orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah di antara kedua saudaramu, dan bertaqwalah kepada Alloh agar kamu mendapat rahmat.”

(QS. Al Hujurot : 10)

“Sungguh orang-orang yang beriman dan beramal sholih, kelak Ar-Rahman akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.”

(QS. Maryam : 96)

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam cinta mencintai, sayang menyayangi, dan bantu membantu di antara sesamanya laksana sebuah jasad. Apabila salah satu bagiannya sakit, yang lain tiada bisa tidur di malam hari dan menggigil demam.”

(HR. Muslim, dari An Nu’man ibn Basyir)

 

Suatu hari di zaman Rosululloh SAW sebagaimana dikisahkan oleh Anas ra, ada seorang sahabat yang sedang duduk di samping Rosululloh SAW. Kemudian seorang sahabat yang lain tiba-tiba berjalan di depan mereka. Orang yang duduk di sisi Rosululloh SAW kemudian berkata kepada Rosululloh, “Ya Rosululloh, aku mencintai dia.” Rosululloh SAW bersabda,”Apakah kamu sudah beritahukan kepadanya?” Orang itu menjawab, “Belum.” Lalu Rosululloh SAW bersabda,”Beritahukan kepadanya…!!” Kemudian orang itu pun mengejar sahabat yang tadi lewat itu dan kemudian memberitahukan kepadanya dan berkata, “Sungguh aku mencintaimu karena Alloh.” Kemudian sahabatnya menjawab, “Semoga Alloh SWT mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya.”

Kisah di atas adalah salah satu contoh adanya perasaan cinta yang tumbuh antara muslim yang satu dengan yang lain dalam indahnya ukhuwah Islamiyyah. Sahabat itu mempersembahkan untaian kata-kata yang indah “UKHIBBUKI FILLAH, Aku Mencintaimu Karena Alloh” kepada saudaranya tercinta yang mana ucapan itu keluar atas dasar cinta kepada Alloh SWT dan keikhlasan dalam meraih ridlo-Nya. Sungguh luar biasa hal itu dan semoga kita bisa meneladaninya.

CINTA, satu kata berjuta makna, begitu kata orang. Ada juga yang berkata jika cinta sudah bicara, yang lain nggak ada yang bisa menghentikannya alias nggak ada matinya. Memang seperti itulah fenomena ini muncul di tengah kehidupan kita. Bahkan kita akan merasa hambar jikalau hidup ini tanpa disertai adanya CINTA. Tak seorang pun di bumi ini yang tidak butuh cinta. Kita juga pasti sepakat jika ada yang berkata, “Hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga, bagai langit tak berbintang, bagai jasad tanpa ruh.”

Cinta laksana pohon dalam hati, akarnya adalah ketundukan kepada kekasih yang dicintai, dahannya adalah mengetahuinya, rantingnya adalah ketakutan kepadanya, daunnya adalah malu kepadanya, dan buahnya adalah ketaatan kepadanya, sedangkan air yang menghidupinya adalah menyebut-nyebut namanya (meskipun mungkin namanya itu jelek, akan terasa begitu indah. Ya, itulah cinta).

Sebagai seorang muslim, kita harus tahu bahwa cinta sejati kita hendaknya hanyalah tertuju kepada Robbul ‘Izzati, Alloh SWT. Mencintai-Nya merupakan kesempurnaan cinta dan tuntutan cinta. Cinta yang suci dan pasti tidak bertepuk sebelah tangan, itulah cinta kepada-Nya.

Dari Anas r.a., bersabda Nabi SAW :”Ada tiga perkara, barangsiapa dirinya yang dapat menyandangnya niscaya akan merasakan kelezatan iman; (1) Jika ia mencintai Alloh dan Rosululloh lebih dari selain keduanya. (2) Jika ia mencintai sesama manusia semata-mata karena Alloh. (3) Enggan kembali kepada kafir setelah diselamatkan Alloh daripadanya, sebagaimana enggan dimasukkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhori Muslim)

Dari hadits di atas, pada point pertama sudah sangat jelas disebutkan kalau kita mencintai Alloh dan Rosululloh melebihi kecintaan kita kepada selain keduanya maka pasti kita akan merasakan manisnya iman. Sungguh luar biasa jika manisnya iman sudah bisa kita rasakan.

Alloh berfirman,

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

(QS. Ar-Ra’d : 28)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”

(QS. Al Anfal : 2)

[594] Maksudnya: orang yang sempurna imannya.

[595]Dimaksud dengan disebut nama Allah Ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakannya.

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(QS. Ali ‘Imron : 31)

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu[106] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).”

(QS. Al Baqoroh : 165)

[106] Yang dimaksud dengan orang yang zalim di sini ialah orang-orang yang menyembah selain Allah.

Faktor-faktor yang menyebabkan cinta kepada Alloh :

  • Hendaknya seorang hamba memelihara semua hal yang difardhukan, sebab hal itu adalah kunci pertama dan jalan yang paling utama menuju kepada Alloh.
  • Hendaknya seseorang membaca Al Qur’an dengan merenungi maknanya, karena Al Qur’an adalah kalamulloh yang ada di bumi ini dan menjadi parameter bagi seorang hamba untuk dapat mengetahui sampai dimana kadar keimanannya.
  • Hendaknya seseorang selalu berdzikir kepada Alloh selamanya, karena dzikir kepada Alloh adalah pengusir syaithon, menambah kesetiaan, ketaatan, dan keridloan Alloh SWT, serta menjauhkan diri dari semua hal yang menyebabkan kemurkaan Alloh SWT.
  • Hendaknya seorang hamba memperbanyak amal sunnah yang mendekatkan dirinya kepada Alloh SWT seperti sholat, puasa, dan shodaqoh.

Faktor-faktor yang dapat membantu seseorang untuk mencintai Rosululloh SAW :

  • Mengenal anugerah besar yang dikaruniakan oleh Alloh kepada kita dengan diutusnnya beliau kepada kita.
  • Mengkaji semua akhlaq yang ada dalam diri Rosululloh baik dari Al Qu’an, hadits-hadits, maupun perjalanan hidup dan sejarahnya.
  • Hendaknya mengetahui bahwa kedudukan penghambaan diri tidaklah sempurna, kecuali dengan mencintai beliau, Rosululloh SAW.

Uraian di atas diharapkan bisa menyadarkan kita bahwa sesungguhnya cinta sejati kita hendaknya hanya tertuju kepada Alloh SWT, kemudian setelah itu kepada Rosululloh SAW. Tiada cinta yang lebih berharga di dunia ini dibanding cinta kepada keduanya. Lebih-lebih jika kita mencintai keduanya melebihi yang lain, kita akan dikaruniai oleh-Nya kelezatan iman. Semoga Alloh SWT mengaruniakan kepada kita kelezatan iman sebagai anugerah ter-agung setelah kita mencintai Alloh dan Rosululloh melebihi apapun. Aamiin.

Wallohu a’lam bish showwab.

(bersambung…………insya Alloh)

(Al Qahthany, 17 Mei 2008, tuk semua saudaraQ fi sabilillah, “Sesungguhnya cinta sejati hanyalah untuk Alloh SWT, raihlah manisnya iman dengan senantiasa mencintai-Nya dan Rosul-Nya melebihi apapun di dunia ini, dan semoga Alloh mempertemukan kita di Jannah-Nya. Aamiin Ya Robbal ‘Alamiin.” -baru sempat dipost-kan sekarang-)

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Bergabunglah dengan 4 pengikut lainnya

  • Blog Stats

    • 25,031 hits
%d blogger menyukai ini: