Saya Mencintaimu Karena-Nya (2)

Seperti janji saya (pada tulisan sebelumnya), sekarang akan saya lanjutkan kembali bahasan kita terkait CINTA.

Ikhwati fillah, setelah sampai pada bagian ini hendaknya kita sudah paham bahwa cinta sejati kita hendaknya hanyalah untuk Alloh SWT.

Dari Anas r.a., bersabda Nabi SAW :”Ada tiga perkara, barangsiapa dirinya yang dapat menyandangnya niscaya akan merasakan kelezatan iman; (1) Jika ia mencintai Alloh dan Rosululloh lebih dari selain keduanya. (2) Jika ia mencintai sesama manusia semata-mata karena Alloh. (3) Enggan kembali kepada kafir setelah diselamatkan Alloh daripadanya, sebagaimana enggan dimasukkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhori Muslim)

Dari hadits di atas kita dapat mengetahui pada point kedua, bahwa kita akan merasakan kelezatan iman jika kita mencintai seseorang, tidaklah kita mencintainya, melainkan karena Alloh. Hal ini menjelaskan bahwa sesungguhnya Alloh tidak egois di dalam mendominasi cinta hamba-hamba-Nya. Alloh memberikan kita kesempatan untuk mencintai seseorang asalkan kita mencintainya karena Alloh dan sesuai dengan porsinya yaitu tidak menyamai cinta kita kepada-Nya. Jangan sampai kita mencintai seseorang dengan perasaan cinta yang sama dengan cinta kita kepada-Nya, sehingga menjadikan kita syirik kepada-Nya karena menduakan cinta-Nya. Kita boleh mencintai seseorang tapi cinta itu tentu porsinya tidak menyamai cinta kita pada Alloh, karena Alloh berfirman, “Katakanlah! ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta-benda yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatiri akan merugi dan rumah tangga yang kamu senangi (manakala itu semua) lebih kamu cintai dari pada Alloh dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah keputusan-Nya. Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.”

Ikhwati fillah, kembali kepada point kedua di hadits tadi, di sana disebutkan kata “seseorang”. Pengertian “seseorang dalam hadits ini menurut pendapat para ulama ditujukan kepada seorang muslim, karena sesungguhnya kita dianjurkan untuk mengambil teman setia orang-orang yang berasal dari kalangan kaum muslimin secara keseluruhan. Akan tetapi sudah barang tentu, hubungan dan kecintaan ini diletakkan dalam porsi yang berbeda-beda karena harus disesuaikan dengan tingkat ketaatan dan kedekatan yang bersangkutan dengan Alloh SWT.

Barangsiapa di antara mereka (kalangan kaum muslimin) yang lebih banyak durhakanya, berarti kita harus lebih membencinya dan lebih menjauhinya, barangsiapa yang lebih banyak ketaatannya kepada Alloh, berarti kita harus lebih mencintainya dan lebih mendekat padanya.

Sehingga termasuk sikap yang bijak jika ita menempatkan orang lain sesuai dengan kedudukannya menurut parameter jauh dan dekatnya yang bersangkutan dengan Alloh SWT.

Adapun mengenai anjuran untuk mencintai orang–orang yang sholih, maka banyak hadits yang mengetengahkan pembahasan ini. Antara lain hadits di bawah ini yang terdapat dalam Kitab Shahih Muslim. Rosululloh bersabda :

“Alloh SWT berseru pada hari kiamat :’Di manakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku, pada hari ini Aku akan menaungi mereka di bawah naungan-Ku pada hari yang tiada naungan, kecuali hanya naungan-Ku.”

 

Dalam hadits yang lain juga disebutkan,

“Abu Huroiroh ra berkata, ‘Bersabda Nabi SAW :”Tujuh macam orang yang bakal dinaungi oleh Alloh di bawah naungan-Nya, pada hari dimana tiada naungan kecuali naungan Alloh SWT ; (1) Pemimpin (raja) yang adil. (2) Pemuda yang rajin dalam ibadah kepada Alloh SWT. (3) Seorang yang hatinya selalu tergantung di masjid. (4) dua orang yang saling mencintai karena Alloh, baik di waktu berkumpul atau berpisah. (5) Seorang laki-laki yang diajak berzina oleh wanita bangsawan lagi cantik kemudian ia berkata, “Aku takut kepada Alloh.” (6) Seorang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sampai-sampai tangan kanannya tidak tahu apa-apa yang disedekahkan oleh tangan kirinya. (7) Seorang yang berdzikir kepada Alloh dengan sendirian, maka mencucurkan air mata.” (HR. Bukhori Muslim)

 

Ikhwati fillah,

Ibnu Umar r.a. telah berkata : “Demi Alloh, seandainya aku puasa (sunnah) pada siang hari tanpa pernah berbuka, melakukan qiyam (sholat) malam hari tanpa tidur, dan membelanjakan hartaku sebanyak-banyaknya di jalan Alloh, tetapi kemudian aku tidak menyukai orang-orang yang taat dan tidak membenci orang-orang yang tukang maksiat, tentulah aku khawatir bila Alloh akan menjungkalkan diriku dengan muka di bawah ke dalam neraka.”

Hal itu terjadi karena agama Islam ini adalah agama saling menyukai dan agama yang bersih, bukan agama kepalsuan. Oleh karena itu, kita lihat ada sebagian orang yang mengerjakan sholat, puasa, haji, dan umroh, meskipun demikian mereka terhina karena menyukai dan berteman setia dengan orang-orang yang menyukai kerusakan dan kemungkaran.

Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang seperti disebutkan di atas, yaitu orang yang rajin beribadah tapi masih senang berteman setia dengan orang-orang yang durhaka kepada-Nya.

Akhirnya sebagaimana dikutip oleh Yesi Elsandra dalam artikelnya, marilah kita berdoa,

Ya Allah, jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu, agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

Ya Allah, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu, agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.

Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah, jika aku rindu, jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu, jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu, jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.

Ya Allah Engaku mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-MU, telah berpadu dalam membela syariat-Mu. Kokohkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengna limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

Amin Ya Robbal ‘Alamin.

Wallohu a’lam bish showwab. (Al Qahthany, 19 Mei 2008, tuk saudaraQ fi sabilillah, “I Love You coz of Alloh”.)

Iklan
  1. #1 by nurutami on Desember 10, 2010 - 8:06 am

    tadi salah email..

    lanjutkan terus blogny man.. 🙂

    • #2 by Semangat Pemuda Luar Biasa on Desember 10, 2010 - 8:10 am

      maksudnya bagaimana Mi? Ko’ bisa salah email?

      Oke, mohon doa dan dukungannya…

      LANJUTKAN.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Bergabunglah dengan 4 pengikut lainnya

  • Blog Stats

    • 24,356 hits
%d blogger menyukai ini: