Budaya Nusantara, Budaya Kebaikan & Kebenaran….

Terinspirasi oleh diskusi kuliah Budnus pagi itu, 7 Januari 2011.

Budaya itu jika tidak “diarahkan” maka akan timbul banyak penyimpangan di sana. Apalagi jika ditambah dengan begitu maraknya bumbu-bumbu kesyirikan dalam banyak ritual-ritual budaya yang bisa membuat akidah ummat menjadi ternoda, bahkan bisa terburai dengan begitu mudahnya.

Jadi teringat dengan seorang guru bahasa Jawa saat SMA yang begitu konsent dalam membentengi Akidah Ummat (Baca: Siswa-siswinya).

Meskipun beliau sudah pensiun, naamun beliau tetap ingin mengabdikan dirinya untuk mengajar di SMA tercinta. Keinginan beliau bukan tanpa bukti, di usia purna tugasnya, beliau tetap aktif mengajar. Semangatnya tetap menggelora untuk menyuarakan kebenaran kepada siswa-siswinya. Beliau pernah mengatakan kepada saya bahwa jika pelajaran ini tidak “dikendalikan”, maka akan banyak kemusyrikan yang terjadi. Ya, memang seperti itu adanya.

Ketika di satu sisi akidah ummat menjadi terancam, maka di sisi lain ada ancaman baru ketika budaya-budaya asing –yang kotor– masuk ke tengah masyarakat kita. Ya, adalah akhlaq ummat yang terancam karenanya.

Saya tidak habis pikir manakala apa yang tadi pagi teman saya katakan –terkait seks di luar nikah yang telah menjadi budaya– benar-benar merupakan sebuah fakta, apa kata Dunia dan Akhirat? Ketika keperawanan seorang gadis menjadi semakin murah harganya. Ketika PKK (Pakaian Kurang Kain) menjadi tren di kalangan kaum hawa saat ini. Ketika pornografi dan pornoaksi menjadikan profesionalisme kerja sebagai tamengnya. Parah sekali fenomena budaya negeri ini jika semua itu benar adanya.

Apalagi jika coba kita tengok di sudut lain negeri ini. Ada Gayus dan rekan-rekannya yang “gemar” membagi-bagikan uang antar mereka. Bagi-bagi uang kalau untuk shodaqoh sangat baik sekali, tapi dalam kasus ini bagi-bagi uangnya dalam rangka KORUPSI. Wah, semakin parah saja negeri ini. Ketika korupsi semakin banyak terjadi (maaf, dalam hal ini saya menggunakan istilah terjadi bukan terungkap. Hal ini karena sekarang ini yang terungkap pastinya masih belum seberapa dibanding yang terjadi.). Ketika Hakim bukan lagi menegakkan keadilan tapi Hubungi Aku Kalau Ingin Menang. Maka apa kata dunia dan akhirat? Apakah ini artinya korupsi telah jua ikut-ikutan membudaya? Parah..!!!

Na’udzubillah…

Jangan sampai hal itu terjadi. Untuk saat ini dan ke depan kita harus sepakat bahwa kata-kata budaya haruslah berisi kebaikan dan kebenaran seluruhnya. Jangan kita izinkan kemusyrikan, zina, korupsi, dan berbagai macam kajahatan-kejahatan lainnya menjadi budaya. STOP semua itu sekarang juga demi masa depan diri kita dan anak cucu kita, dunia dan akhirat.

 

Biasakanlah kebaikan dan kebenaran,

lalu budayakan,

budayakanlah, Nusantara,

agar jaya kita punya Negara…

SEMANGAAAATTT…!!!!

“Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

(QS.7 : 96)

Wallohu a’lam bish showwab..

 

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Bergabunglah dengan 4 pengikut lainnya

  • Blog Stats

    • 24,356 hits
%d blogger menyukai ini: