Layananmu, Apresiasiku

(Tugas Etika Profesi)

Akhir-akhir kemarin ramai dibicarakan oleh khalayak bagaimana buruknya pelayanan penjualan tiket masuk ke Stadion Utama Gelora Bung Karno bagi masyarakat yang ingin menonton secara langsung pertandingan piala AFF 2010. Dapat kita lihat di televisi bagaimana panjangnya antrean para penggila bola yang ingin langsung menonton laga timnas melawan lawan-lawannya di Stadion utama Gelora Bung Karno ini, panjang antrean bisa lebih dari 100 meter. Sungguh suatu kondisi yang sangat memprihatinkan jika kita bandingkan dengan kondisi yang sama di Negara tetangga, Malaysia. Di Malaysia, penjualan tiket dilakukan secara efektif dan efisien sehingga tidak terlihat sama sekali adanya antrean yang sangat panjang di loket-loket penjualan tiketnya. Buruknya pelayanan penjualan tiket di Indonesia diperparah dengan sikap anarkis yang ditunjukkan para supporter Indonesia yang tampak secara paksa memasuki stadion utama Gelora Bung Karno lalu merusak pagar pembatas dan menuju ke tengah lapangan yang akhirnya membuat rumput di stadion rusak parah. Kericuhan ini sontak membuat kita semua berpikir sebegitu burukkah kondisi bangsa Indonesia saat ini, dimana hampir semua pihak ikut serta berperan, bahkan berlomba-lomba, dalam menghancurkan kewibawaan bangsa ini di mata bangsa-bangsa lain, bahkan di mata masyarakat bangsa ini sendiri. Sungguh suatu hal yang menyedihkan bin memprihatinkan.

Bangsa ini seakan-akan menangis karena kerusakan atau maksiat yang dilakukan oleh para penduduknya. Tangisannya begitu pilu dan menghentakkan dunia. Setelah jatuh tertimpa tangga pula, mungkin itu kata-kata yang pantas disematkan kepada bangsa ini. Bangsa yang telah merdeka sedemikian lamanya namun masih kekanak-kanakan perilakunya.

Di sisi lain tampak adanya perlakuan para pelayan publik yang korup tidak kenal malu. Sebagai contoh kecil saja di salah satu stasiun besar di kawasan ibu kota Jakarta, pernah terjadi sebuah hal yang menurut saya sangatlah licik. Pada jam-jam sore –saat para pembeli tiket sedang ramai berjuang untuk mendapatkan tiket kereta menuju daerah tujuannya masing-masing karena harus pulang kampung– maka petugas loket mengatakan bahwa tiket duduk untuk kereta ekonomi tujuan X telah habis, yang ada tinggal tiket berdiri (tanpa tempat duduk). Fakta menunjukkan hal lain saat para pembeli yang justru membeli di malam hari -pada saat-saat akhir sebelum kereta diberangkatkan- justru mendapat tiket duduk. Ini artinya apa yang dikatakan oleh petugas pada saat sore hari bahwa tiket duduk kereta telah habis adalah bohong besar karena faktanya ketika malam hari masih ada tiket duduk itu dijual bebas kepada para pembelinya. Setelah dicari fakta-fakta lain yang bisa jadi terungkap di sana, maka saya menemukan bahwa ternyata ada “main mata” antara petugas loket dengan satpam stasiun yang juga merangkap sebagai calo tiket. Kisahnya begini, pada saat sore hari petugas mengatakan bahwa tiket duduk telah habis, namun di sisi lain, pada saat yang sama, secara diam-diam, oknum satpam ini bergerak menawarkan tiket duduk dengan harga lebih mahal hampir dua kali lipat kepada para pembeli tiket yang ingin memperoleh tiket duduk. Beberapa pembeli sempat terkena bujuk rayu sang satpam, mereka rela membayar tiket lebih mahal via “abang satpam” tersebut. Setelah dikonfrontir antara pembeli tiket sore hari dengan pembeli tiket malam hari, maka ditemukan fakta bahwa pada saat sore hari tiket duduk dikatakan sudah habis namun pada malam hari entah dari mana tiba-tiba tiket duduk itu ternyata masih tersedia.

Dua kasus di atas membahas kesemuanya tentang tiket, yang satu tiket masuk menonton pertandingan dan yang satu tiket duduk naik kereta api. Ada satu lagi kasus yang terkait dengan masalah pelayanan publik yang tidak ber-etika di Indonesia. Jika dua kasus di atas tentang tiket, maka kasus yang ketiga ini bukan tentang tiket, melainkan tentang toilet umum di stasiun yang sama dengan kasus kedua. Kisahnya bermula saat salah seorang teman minta izin kepada saya untuk ke toilet sebentar di saat kami hendak bepergian jauh bersama dengan menggunakan kereta api. Jelas-jelas tampak sebuah tulisan besar “TOILET GRATIS”, namun faktanya teman saya tetap dimintai uang oleh petugas penjaga toilet seselesainya dari toilet tersebut. Meskipun mungkin besarannya tidaklah signifikan, namun jika dikalikan 1000 orang yang keluar masuk toilet itu kemudian setiap orang itu dimintai uang, misal masing-masing Rp 1.000,- saja, maka total pemasukan petugas itu adalah Rp 1.000.000,-. Jumlah yang tidak kecil untuk ukuran penghasilan rakyat kecil Indonesia saat ini.

Tiga kasus di atas dapatlah menggambarkan bahwa sesungguhnya pelayanan publik di negeri ini belumlah baik, bahkan masih jauh dari kata “cukup baik” dan lebih mendekati kata “cukup buruk”. Suatu evaluasi berharga untuk diri dan juga sahabat pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Jika bangsa ini ingin baik, maka carilah faktor-faktor yang dapat membuat bangsa ini bangkit, bukan malah justru mencari-cari perilaku-perilaku yang bisa merusak jiwa dan mental bangsa.

BANGKITLAH BANGSAKU, JAYALAH NEGERIKU, INDONESIA RAYA…

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Bergabunglah dengan 4 pengikut lainnya

  • Blog Stats

    • 24,525 hits
%d blogger menyukai ini: